pbi.umsida.ac.id —Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Umsida menggelar guest lecture pada mata kuliah Business English: Understanding and Finding Opportunities dengan materi “Cuan dari Media Sosial” pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 10.30 WIB, di Ruang 401 GKB 7 Kampus 3 Umsida.
Kegiatan ini menghadirkan Dwi Rahmi Idawati, S.E., M.M., yang dikenal dengan nama Coach Ida Amy, seorang influencer sekaligus coach of healthy and active lifestyle yang membagikan pengalaman dalam membangun personal branding dan membaca peluang ekonomi digital melalui media sosial.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa kemampuan Business English tidak hanya digunakan dalam komunikasi formal, tetapi juga dapat menjadi bekal strategis untuk membangun citra diri, membuat konten, menjangkau audiens, dan menciptakan peluang karier di era digital.
Media Sosial sebagai Ruang Peluang

Materi Cuan dari Media Sosial menekankan bahwa platform digital dapat menjadi ruang produktif apabila dikelola dengan tujuan, konsistensi, dan keterampilan komunikasi yang tepat.
Coach Ida Amy menjelaskan bahwa peluang dari media sosial tidak selalu harus dimulai dengan modal besar, sebab perangkat sederhana seperti ponsel, internet, skill, dan waktu satu sampai dua jam per hari dapat menjadi awal untuk membangun aset digital.
Ia mengenalkan beberapa peluang yang dapat dikembangkan melalui media sosial, seperti produk digital, affiliate, endorsement, menjadi narasumber, hingga penguatan personal branding yang dapat membuka peluang lebih luas di masa depan.
Paparan tersebut memberi perspektif penting bagi mahasiswa bahwa media sosial bukan hanya tempat hiburan, melainkan ruang kerja baru yang menuntut kemampuan menyusun pesan, memahami audiens, dan menjaga kredibilitas diri.
Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, materi ini menjadi relevan karena kemampuan bahasa dapat membantu mereka menyusun konten yang lebih komunikatif, profesional, dan mampu menjangkau audiens yang lebih beragam.
Personal Branding Perlu Dibangun Bertahap

Dalam sesi tersebut, Coach Ida Amy juga membagikan pengalaman perjalanan akun digitalnya yang berkembang melalui proses panjang, mulai dari membangun identitas, mengikuti pelatihan media sosial, mencoba format konten, hingga memperoleh pertumbuhan audiens secara bertahap.
Ia menunjukkan bahwa pertumbuhan akun tidak terjadi secara instan, sehingga mahasiswa perlu memahami bahwa personal branding membutuhkan keberanian memulai, evaluasi berulang, dan konsistensi dalam menampilkan nilai utama yang ingin dikenal publik.
Materi juga menjelaskan fase perkembangan akun, mulai dari fase jati diri pada angka 0 sampai 10 ribu pengikut, fase bangun identitas pada 10 ribu sampai 100 ribu pengikut, fase perluas market pada 100 ribu sampai 500 ribu pengikut, hingga fase pencipta tren pada angka 500 ribu sampai satu juta pengikut.
Pada setiap fase, komposisi konten perlu disesuaikan antara topik utama, konten personal, dan topik yang lebih luas agar akun tetap memiliki karakter, tetapi tidak kehilangan ruang untuk berkembang mengikuti kebutuhan audiens.
Mahasiswa juga diingatkan bahwa halaman depan Instagram perlu diperlakukan seperti etalase toko, karena story, highlight, dan tiga postingan teratas menjadi bagian pertama yang menentukan kesan audiens terhadap sebuah akun.
Konten Autentik Bangun Kepercayaan

Selain strategi teknis, Coach Ida Amy menekankan pentingnya konten yang autentik, jujur, bermanfaat, dan tidak terlalu terjebak pada tuntutan kesempurnaan visual.
Menurut materi yang disampaikan, audiens sering kali lebih tertarik pada pengalaman nyata, proses di balik layar, cerita yang apa adanya, serta transparansi yang membuat pemilik akun terlihat lebih dekat dan dapat dipercaya.
Ia juga membagikan pola pembuka postingan yang menarik, seperti kalimat berbasis masalah, manfaat, atau pertanyaan pemantik, agar konten mampu menghentikan perhatian audiens sejak awal.
Pembahasan mengenai jumlah viewers juga menjadi catatan penting, karena konten edukasi biasanya dapat menjangkau audiens lebih luas, sementara konten personal branding dan jualan memiliki karakter jangkauan yang berbeda.
Pada akhir sesi, pesan “kita tidak bisa jika tidak memutuskan” menjadi pengingat bahwa peluang digital hanya dapat dimulai ketika mahasiswa berani mengambil langkah, menguji ide, dan membangun kebiasaan berkarya secara konsisten.
Melalui guest lecture ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Umsida memperkuat pembelajaran Business English agar lebih dekat dengan realitas industri kreatif dan kebutuhan karier digital masa kini.
penulis: Faza Finnaja


















