pbi.umsida.ac.id — Mahasiswa semester enam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Pendidikan dan Studi Islam (FPSI), Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Tour Guiding di Yogyakarta pada 6–7 Mei 2026.
Kegiatan bertajuk PBI Semester 6 Goes to Yogyakarta tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan berbahasa Inggris, public speaking, kepemimpinan, dan pengelolaan perjalanan wisata secara langsung.
Hutan Pinus Mangunan menjadi salah satu lokasi pelaksanaan dan titik kebersamaan mahasiswa selama rangkaian kegiatan.
Selain Hutan Pinus Mangunan, mahasiswa juga mengunjungi Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Candi Prambanan.
Pada setiap lokasi, mahasiswa bergantian menjalankan peran sebagai tour guide dan tour leader untuk memberikan penjelasan, mengarahkan perjalanan, serta menjaga keterlibatan peserta.
Pengalaman Pertama Menjadi Pemandu Wisata

Salah satu peserta, Dhina, mengaku kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan karena untuk pertama kalinya ia mempraktikkan peran sebagai pemandu dan pemimpin perjalanan secara langsung.
“Pengalaman mengikuti PKL Tour Guiding di Yogyakarta merupakan momen yang tidak terlupakan bagi saya karena ini adalah kali pertama saya mempraktikkan peran sebagai seorang tour guide sekaligus tour leader,” ungkapnya.
Dari sejumlah destinasi yang dikunjungi, Benteng Vredeburg menjadi lokasi paling berkesan baginya.
Bangunan kuno, patung, dan berbagai benda bersejarah di dalam kawasan tersebut memberikan daya tarik sekaligus bahan pembelajaran yang dapat disampaikan kepada audiens.
Meski demikian, Dhina menghadapi tantangan berupa rasa gugup saat berbicara di depan umum.
Kondisi cuaca yang panas juga membuat sebagian audiens lebih tertarik berjalan-jalan atau duduk santai daripada mendengarkan penjelasan.
Ia kemudian mencoba mengatasi keadaan tersebut dengan membangun komunikasi dua arah.
Pertanyaan sederhana, respons terhadap pendapat peserta, dan ajakan untuk mengamati lingkungan digunakan agar audiens kembali fokus dan terlibat.
Kegiatan ini masih berupa simulasi internal dengan teman sekelas sebagai audiens.
Mahasiswa belum berinteraksi langsung dengan wisatawan asing, tetapi situasi lapangan tetap memberi gambaran nyata mengenai tuntutan seorang pemandu wisata.
Public Speaking Berkembang melalui Praktik Lapangan
Menurut Dhina, teori yang dipelajari di kampus tetap relevan ketika diterapkan di Malioboro, Benteng Vredeburg, Prambanan, maupun Hutan Pinus Mangunan.
Namun, praktik lapangan menghadirkan situasi yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Mahasiswa harus menyesuaikan volume suara, memilih informasi yang menarik, membaca suasana kelompok, dan menentukan cara penyampaian agar peserta tidak merasa bosan.
Mereka juga dituntut mengatur waktu serta memastikan perjalanan berjalan sesuai rencana.
“Keterampilan yang paling berkembang dalam diri saya adalah public speaking. Saya harus terus berpikir bagaimana menyampaikan informasi agar audiens tidak bosan dan tetap tertarik dengan penjelasan yang saya sampaikan,” kata Dhina.
Pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap profesi pemandu wisata.
Sebelumnya, ia mengira tour guide hanya bertugas menjelaskan sejarah secara searah.
Setelah menjalani praktik, ia memahami bahwa seorang pemandu harus mampu membangun komunikasi interaktif dan menciptakan kenyamanan.
Menurutnya, audiens perlu dilibatkan melalui pertanyaan tentang kesan pertama, pengalaman, maupun pendapat mereka terhadap destinasi.
Cara tersebut membuat perjalanan terasa lebih hidup dan peserta tidak sekadar menjadi pendengar pasif.
Menjadi Bekal untuk Karier Mahasiswa
PKL Tour Guiding tidak hanya melatih kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga mengembangkan keberanian, kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Mahasiswa belajar bahwa perjalanan wisata membutuhkan persiapan yang rinci sejak penyusunan agenda hingga pembagian peran.
Dhina menyarankan mahasiswa tingkat berikutnya merancang business trip kelompok secara matang.
Kesepakatan mengenai jadwal, tugas, anggaran, transportasi, dan mekanisme pengambilan keputusan diperlukan untuk mencegah perselisihan selama kegiatan.
“Bagi adik tingkat yang nantinya melaksanakan PKL Tour Guiding, saya menyarankan agar business trip kelompok direncanakan dan disusun dengan sangat matang,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin percaya diri menggunakan bahasa Inggris di depan umum dan tidak kaku ketika berkomunikasi.
Pengalaman menjadi tour guide dan tour leader juga dapat menjadi modal awal untuk memasuki bidang pendidikan, pariwisata, pelayanan, maupun pekerjaan lain yang membutuhkan komunikasi profesional.
Rangkaian PBI Semester 6 Goes to Yogyakarta menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Lingkungan nyata memberikan tantangan yang mendorong mahasiswa menguji kemampuan, mengevaluasi kekurangan, dan tumbuh menjadi lulusan yang lebih adaptif.
Hal itu memperkuat kesiapan mereka menghadapi dunia kerja yang dinamis, kolaboratif, dan kompetitif kelak.


















