Suka Duka Mahasiswa PBI di Balik Pertanyaan Cuma Jadi Guru

pbi.umsida.ac.id — Menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) sering kali tidak hanya tentang belajar grammar, speaking, listening, atau microteaching di ruang kelas.

Di balik proses akademik itu, ada pengalaman sosial yang cukup khas, yaitu menghadapi pertanyaan yang berulang dari orang sekitar, “Emang nanti cuma jadi guru?” Kalimat sederhana ini terdengar sepele, tetapi bagi banyak mahasiswa PBI, pertanyaan tersebut menyimpan stereotip yang kerap meremehkan pilihan studi mereka.

Padahal, PBI bukan sekadar jurusan yang mencetak tenaga pengajar. Mahasiswa di dalamnya dibentuk untuk memiliki keterampilan bahasa, kemampuan komunikasi, kepekaan budaya, serta kecakapan pedagogis yang dapat diterapkan di banyak bidang.

Namun, persepsi sempit di masyarakat masih sering membuat mahasiswa PBI harus bekerja dua kali, yakni membuktikan kompetensinya di kampus sekaligus menjelaskan nilai jurusannya di hadapan publik.

Dianggap Sempit Padahal Ruang Belajarnya Luas

 Mahasiswa PBI

Salah satu suka duka mahasiswa PBI berawal dari cara masyarakat memandang jurusan ini.

Banyak yang mengira mahasiswa PBI hanya belajar menjadi guru bahasa Inggris dan ujungnya mengajar di sekolah.

Pandangan ini muncul karena kata “pendidikan” langsung diasosiasikan dengan profesi guru, tanpa melihat proses pembelajaran yang lebih luas di dalamnya.

Faktanya, mahasiswa PBI mempelajari banyak hal yang tidak sesederhana menghafal tenses atau menerjemahkan teks.

Mereka dituntut memahami strategi pembelajaran, psikologi peserta didik, pengembangan bahan ajar, public speaking, linguistik, sastra, hingga penggunaan teknologi dalam pembelajaran bahasa.

Mereka juga dilatih untuk mampu tampil percaya diri, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan secara efektif dalam dua bahasa.

Di sisi inilah letak sukanya. Mahasiswa PBI biasanya memiliki ruang berkembang yang cukup luas.

Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga dibiasakan berlatih presentasi, diskusi, mengajar, membuat media pembelajaran, hingga berinteraksi dengan banyak karakter orang.

Proses ini membuat banyak mahasiswa PBI lebih adaptif saat masuk ke dunia organisasi, kepanitiaan, bahkan dunia kerja.

Kemampuan bahasa Inggris juga menjadi nilai tambah yang nyata.

Saat mahasiswa dari jurusan lain mungkin masih ragu berbicara di depan umum dalam bahasa asing, mahasiswa PBI justru terbiasa menghadapi tantangan itu sejak awal kuliah.

Hal ini membuka lebih banyak peluang, mulai dari lomba, pertukaran pelajar, moderator acara, content creator edukasi, translator, tutor, hingga pekerjaan di bidang administrasi dan komunikasi.

Tantangan Akademik dan Tekanan Sosial Bagi Mahasiswa PBI

Meski terlihat menarik, perjalanan mahasiswa PBI tidak selalu mudah. Tantangan pertama datang dari tuntutan akademik.

Belajar di PBI bukan berarti otomatis sudah mahir berbahasa Inggris. Justru banyak mahasiswa harus berjuang dari dasar, memperbaiki pronunciation, memperkaya vocabulary, dan melatih keberanian berbicara.

Mereka dituntut aktif, karena kemampuan bahasa tidak akan berkembang jika hanya dipelajari secara pasif.

Tekanan semakin terasa ketika mahasiswa harus tampil di depan kelas. Presentasi dengan bahasa Inggris, peer teaching, praktik mengajar, dan penyusunan perangkat pembelajaran sering menjadi fase yang melelahkan.

Banyak mahasiswa PBI harus melawan rasa malu, takut salah, dan tidak percaya diri. Kesalahan kecil dalam pengucapan atau penyampaian materi kadang langsung membuat mereka merasa tertinggal.

Di luar kelas, tantangannya berbeda. Pertanyaan seperti “Kenapa pilih PBI?”, “Lulus mau ngajar di mana?”, atau “Kalau tidak jadi guru terus mau kerja apa?” masih sering terdengar.

Kalimat “emang cuma jadi guru?” menjadi bentuk keraguan yang cukup menyakitkan, karena seolah profesi guru itu kecil, padahal perannya sangat besar dalam membentuk masa depan generasi.

Tekanan sosial seperti ini bisa membuat mahasiswa PBI merasa harus terus membuktikan diri.

Mereka bukan hanya dituntut berprestasi, tetapi juga harus mampu meluruskan anggapan bahwa lulusan PBI memiliki masa depan yang terbatas.

Padahal, tantangan tersebut justru menunjukkan bahwa mahasiswa PBI perlu punya mental kuat, identitas akademik yang jelas, dan keberanian untuk menjelaskan kapasitasnya secara logis.

Lebih dari Guru Tetapi Tetap Bangga Menjadi Pendidik

Hal yang perlu ditegaskan adalah menjadi guru bukan pilihan yang sempit, apalagi rendah. Masalahnya bukan pada profesinya, melainkan pada cara sebagian orang memandang profesi tersebut.

Mahasiswa PBI justru berada di posisi penting karena mereka disiapkan menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar bahasa, tetapi juga membangun kepercayaan diri, membuka akses global, dan menyiapkan peserta didik menghadapi dunia yang semakin terhubung.

Penulis: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

Research Gap
Dosen PBI UMSIDA Soroti Pentingnya Identifikasi Research Gap di Filipina 2026
February 27, 2026By
Bahasa Inggris
Pengaruh Film dan Musik dalam Pembelajaran Bahasa Inggris 2026
February 24, 2026By
Kritis
Asah Nalar Kritis dan Literasi dari Mahasiswa PBI 2026
February 13, 2026By
American Accent
7 Perbedaan British vs American Accent
February 10, 2026By
English Vlog
English Vlog Competition FPIP CUP 2026: Ajang Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris
February 6, 2026By
Bahasa Inggris
Duolingo vs Stimuler: Mana yang Lebih Efektif untuk Belajar Bahasa Inggris Ditahun 2026
January 30, 2026By
Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru Umsida Raih Juara 2 Medali Perak di Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto
January 27, 2026By
Program Magang
Moch. Jakariyah Berhasil Lolos untuk Program Magang Internasional di Thailand
January 23, 2026By

Prestasi

Mahasiswa Baru
Mahasiswa Baru Umsida Raih Juara 2 Medali Perak di Kejuaraan Ju-Jitsu Mojokerto
January 27, 2026By
Program Magang
Moch. Jakariyah Berhasil Lolos untuk Program Magang Internasional di Thailand
January 23, 2026By
Pendidikan Inklusif
Kolaborasi PBI dan Psikologi Hasilkan DYNUSA 2025 untuk Pendidikan Inklusif
December 29, 2025By
Pendidikan Bahasa Inggris
Wisudawan Pendidikan Bahasa Inggris Risti Nur Aini Raih Gold Award dan Juara 3 di IC-RIITEL 2025
December 9, 2025By
Bahasa Inggris
Wisudawan Pendidikan Bahasa Inggris Masliha Alfiatul Raih Juara 3 Speech Contest Nasional Language Fest 2022
December 2, 2025By
Bahasa Inggris
Hadiah Terindah untuk Diri Sendiri: Cerita Wisudawan Berprestasi 2025 dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
November 28, 2025By
Alfzehra
Wisudawan 2025 Alfzehra Muhammad Cajuizi: Mahasiswa Umsida Juara 1 Tanding Kelas C Dewasa Putra pada Kanjuruhan Fighter Competition 2
November 25, 2025By
Tapak Suci Umsida Persembahkan Medali Emas Lewat Alfzehra Muhammad Cajuizi
September 16, 2025By