pbi.umsida.ac.id — Perbedaan pengajaran Bahasa Inggris antara negara berkembang dan negara maju umumnya berawal dari arah kebijakan pendidikan.
Di banyak negara maju, Bahasa Inggris sering ditempatkan sebagai keterampilan hidup (life skill) yang dipakai untuk belajar lintas disiplin, berkomunikasi, dan bekerja di lingkungan multikultural.
Karena itu, kurikulum biasanya menekankan kompetensi komunikatif: kemampuan memahami ide, mengekspresikan pendapat, berdiskusi, menulis argumentasi, dan memecahkan masalah menggunakan bahasa.
Sebaliknya, di banyak negara berkembang, Bahasa Inggris kerap diposisikan sebagai mata pelajaran akademik yang orientasinya kuat pada ujian.
Tujuan belajar akhirnya lebih sempit: menguasai tata bahasa, menghafal kosakata, dan menyelesaikan soal dengan cepat.
Ini bukan karena pendekatan tersebut “lebih benar”, melainkan karena sistem penilaian nasional dan seleksi pendidikan/kerja sering menuntut hasil numerik yang mudah diukur.
Ketika nilai menjadi target utama, strategi pengajaran pun cenderung mengarah ke drilling, latihan soal, dan penguatan pola-pola grammar.
Dampaknya terlihat pada pengalaman siswa. Di negara maju, siswa lebih sering berlatih menggunakan bahasa dalam situasi otentik presentasi, proyek, diskusi kelompok, membaca sumber asli, hingga menulis esai.
Kelas mendorong keberanian berbicara meskipun belum sempurna. Sementara itu, di negara berkembang, banyak siswa memahami struktur bahasa tetapi kurang percaya diri berbicara karena takut salah.
Budaya “jawaban benar-salah” membuat praktik komunikasi jadi minim, padahal kemampuan bahasa berkembang melalui penggunaan yang berulang dan bermakna.
Namun perlu dicatat: pembagian ini bukan hitam-putih. Ada sekolah di negara berkembang yang sangat komunikatif dan maju, serta ada sekolah di negara maju yang masih tradisional.
Tetapi secara umum, arah kebijakan dan sistem evaluasi sering menciptakan pola besar yang berbeda.
Metode Mengajar dan Kualitas Ekosistem Belajar di Sekolah
Metode pengajaran sangat dipengaruhi oleh kondisi kelas, ketersediaan sumber belajar, dan kapasitas guru.
Di banyak negara maju, rasio guru-siswa cenderung lebih terkendali, sehingga praktik speaking dan feedback bisa lebih personal.
Guru memiliki akses pada pelatihan berkelanjutan, komunitas profesional, serta materi ajar yang mutakhir.
Kegiatan pembelajaran juga banyak menggunakan pendekatan berbasis proyek (project-based learning), literasi, dan penilaian formatif (feedback bertahap untuk perbaikan).
Di sisi lain, negara berkembang sering menghadapi tantangan struktural: kelas besar, jam pelajaran terbatas, fasilitas bahasa yang minim, serta beban administrasi guru.
Dalam kondisi seperti itu, pengajaran komunikatif menjadi lebih sulit dijalankan secara konsisten.
Guru sering “terpaksa” memilih metode yang efisien untuk kelas besar, misalnya ceramah, latihan tertulis, dan tugas terstruktur.
Ini bukan masalah kompetensi pribadi guru semata, melainkan persoalan ekosistem yang membatasi ruang eksperimen.
Paparan bahasa (language exposure) juga berbeda. Di negara maju, siswa lebih mudah terpapar Bahasa Inggris melalui media, lingkungan sosial, atau program pertukaran.
Akses buku, film, podcast, perpustakaan, dan platform pembelajaran juga lebih merata. Siswa tidak hanya belajar di kelas; mereka hidup di ekosistem yang memperbanyak input bahasa setiap hari.
Hasilnya, kemampuan listening dan speaking berkembang secara natural karena sering “dipakai”.
Di negara berkembang, paparan bahasa sering tidak merata. Banyak siswa hanya bertemu Bahasa Inggris saat jam pelajaran.
Di luar kelas, mereka kembali ke lingkungan yang hampir tidak menyediakan input bahasa. Jika akses internet terbatas atau literasi digital tidak didukung, peluang belajar mandiri pun menurun.
Akibatnya, kemajuan bahasa sangat bergantung pada kualitas kelas yang justru dibatasi oleh faktor kelas besar dan keterbatasan sumber daya.
Soal materi ajar, negara maju cenderung menggunakan bahan autentik lebih sering: artikel aktual, teks akademik ringan, video edukatif, dan proyek berbasis isu.
Negara berkembang lebih banyak bergantung pada buku paket dan LKS yang mengejar ketuntasan kurikulum.
Sekali lagi, bukan karena tidak ingin inovatif, tetapi karena standar, keterbatasan waktu, dan kebutuhan “tuntas” membuat guru memilih materi yang paling aman.
Output Siswa, Kesenjangan, dan Strategi Perbaikan yang Realistis
Perbedaan pendekatan akhirnya berdampak pada output. Di banyak negara maju, siswa cenderung lebih percaya diri berbicara, lebih terbiasa menulis argumentasi, dan lebih siap menghadapi konteks akademik maupun kerja yang menuntut komunikasi.
Sementara di banyak negara berkembang, siswa sering lebih kuat di aspek pengetahuan aturan, tetapi lemah pada kelancaran (fluency), pengucapan, dan spontanitas berbahasa.
Masalah yang sering diremehkan di negara berkembang adalah kesenjangan kualitas antar sekolah.
Ada sekolah unggulan yang punya program bilingual, guru berkualitas, dan akses sumber belajar yang kaya.
Tetapi sekolah lain berjuang dengan keterbatasan dasar. Kesenjangan ini menciptakan ketidakadilan peluang: kemampuan Bahasa Inggris menjadi “modal sosial” yang hanya dimiliki sebagian kelompok, bukan keterampilan yang terdistribusi luas.
Penulis: Nabila Wulyandini













![IMG-20250805-WA0019[1] Wisudawan Terbaik](https://pbi.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00191-150x150.jpg)