pbi.umsida.ac.id — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengasah kemampuan berpikir kritis melalui tugas menulis opini pada salah satu mata kuliah keterampilan menulis, yang dilaksanakan pada awal semester genap Tahun Akademik 2025/2026 di lingkungan perkuliahan Umsida.
Kegiatan ini dilakukan untuk melatih calon guru menyusun argumen berbasis data, peka terhadap isu pendidikan, serta mampu menyampaikan gagasan secara etis dan meyakinkan.
Prosesnya ditempuh melalui tahapan pemilihan isu, penguatan referensi, penulisan draf, umpan balik teman sebaya, revisi, dan presentasi, sehingga opini yang dihasilkan tidak sekadar “pendapat”, tetapi teruji secara logika dan struktur.
Latihan Nalar Kritis dan Literasi Calon Guru

Tugas opini dalam perkuliahan PBI diarahkan agar mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan berbahasa, melConfirmed to=python exec code? nope. Actually no tools. Continue writing.
anjut pada kemampuan bernalar. Dalam konteks PBI, opini bukan hanya melatih paragraf yang rapi, tetapi menuntut mahasiswa menyatakan posisi, menyusun alasan, menimbang kontra-argumen, lalu menutupnya dengan ajakan atau rekomendasi yang relevan.
Di titik ini, mahasiswa dilatih untuk berpikir seperti calon guru: mampu melihat masalah pembelajaran secara utuh, menilai dampaknya bagi siswa, dan menawarkan solusi yang realistis.
Tema opini yang dibahas umumnya dekat dengan dunia pendidikan dan bahasa, seperti penguatan literasi membaca, tantangan pembelajaran diferensiasi di kelas heterogen, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, strategi menjaga motivasi belajar, hingga isu etika akademik dalam penggunaan sumber.
Dengan tema-tema tersebut, mahasiswa belajar membedakan opini yang kuat dengan opini yang sekadar reaksi emosional.
Mereka diminta memulai dari pertanyaan kunci: masalahnya apa, siapa yang terdampak, bukti yang bisa dipakai apa, dan solusi yang masuk akal seperti apa.
Kegiatan ini juga memperkuat identitas mahasiswa PBI sebagai calon pendidik bahasa Inggris yang perlu memiliki kepekaan sosial.
Opini yang baik tidak menyerang pihak tertentu, melainkan mengkritik isu dan sistem dengan bahasa yang terukur.
Sikap ini penting karena dunia pendidikan membutuhkan pendidik yang berani bersuara, tetapi tetap menjaga etika dan empati.
Dari Isu ke Draft melalui Umpan Balik yang Kritis

Proses penulisan opini dibuat bertahap agar mahasiswa tidak “menulis sekali jadi”. Tahap awal dimulai dengan pemetaan isu, biasanya melalui diskusi kelas dan penguatan sudut pandang.
Setelah itu, mahasiswa mengumpulkan bahan bacaan dari sumber tepercaya: buku, artikel ilmiah, laporan kebijakan pendidikan, atau data yang relevan.
Penggunaan referensi ini menjadi pembeda utama antara opini akademik dan opini populer yang lemah landasan.
Tahap berikutnya adalah penyusunan kerangka. Mahasiswa diarahkan menulis opini dengan alur yang jelas: pembuka yang memantik perhatian, pemaparan masalah, argumentasi utama, bukti pendukung, antisipasi sanggahan, lalu penutup yang memberi arah.
Dari kerangka ini, mahasiswa menyusun draf pertama dan mulai menguji apakah argumennya konsisten atau justru bertentangan di tengah jalan.
Di bagian yang paling menentukan, perkuliahan menerapkan peer review atau umpan balik teman sebaya. Mahasiswa saling membaca draf dan memberi catatan pada dua hal: kekuatan logika serta kejelasan bahasa.
Metode ini memaksa penulis menghadapi pembaca nyata, bukan sekadar menulis untuk dinilai.
Dalam praktiknya, banyak draf yang awalnya terlalu umum menjadi lebih tajam setelah menerima pertanyaan kritis dari teman: “buktinya apa”, “siapa yang paling terdampak”, atau “solusi ini bisa dijalankan di sekolah dengan keterbatasan apa”.
Tahap akhir adalah revisi dan penyempurnaan gaya bahasa. Bagi mahasiswa PBI, ini menjadi ruang latihan penting: memilih diksi yang tepat, memastikan kohesi antarkalimat, memperbaiki transisi, serta menjaga nada tulisan agar tegas tetapi tidak agresif.
Hasil akhirnya kemudian dipresentasikan di kelas untuk melatih keberanian menyampaikan pendapat dan mempertanggungjawabkan argumen di hadapan audiens.
Bekal Calon Guru di Kelas dan Ruang Digital
Tugas opini dalam mata kuliah PBI memiliki dampak langsung pada kesiapan mahasiswa sebagai calon guru.
Pertama, opini melatih kemampuan berpikir kritis yang diperlukan saat merancang pembelajaran.
Guru yang baik tidak hanya mengikuti pola lama, tetapi mampu mengevaluasi strategi belajar, memahami hambatan siswa, dan memilih pendekatan yang sesuai konteks sekolah.
Kedua, opini melatih literasi informasi. Di era banjir konten, calon guru harus mampu memilah data, mengenali bias, dan menyusun kesimpulan yang tidak menyesatkan.
Keterampilan ini juga penting ketika guru menjadi rujukan siswa baik di kelas maupun di ruang digital karena apa yang disampaikan guru sering dipandang sebagai “kebenaran”.
Ketiga, opini memperkuat kompetensi komunikasi profesional. Guru bukan hanya pengajar, tetapi komunikator publik di lingkungan sekolah.
Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dan terstruktur membantu calon guru berkomunikasi dengan siswa, orang tua, rekan sejawat, bahkan pemangku kebijakan sekolah.
Melalui latihan opini, mahasiswa PBI Umsida tidak hanya berlatih menulis, tetapi membangun kebiasaan berpikir: berangkat dari masalah nyata, mengumpulkan bukti, menyusun argumen, lalu menawarkan langkah yang bisa dijalankan.
Jika konsisten dilatih, keterampilan ini menjadi modal penting bagi calon guru bahasa Inggris untuk hadir sebagai pendidik yang cakap, kritis, dan relevan dengan tantangan pendidikan hari ini.
Penulis: Nabila Wulyandini
















