pbi.umsida.ac.id — Pada 30 November 2025, Dewi Nawang Wulan Sekar Arum bersama tim mengikuti Lomba Esai Nasional Civic Smartfest 2025 yang diselenggarakan HIMA PPKN Universitas Buana Perjuangan Karawang.
Ajang ini mempertemukan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan berjalan kompetitif sejak tahap seleksi. Di tengah persaingan yang ketat, tim Dewi berhasil meraih Juara Harapan 1.
Tim ini beranggotakan tiga mahasiswa lintas program studi: Dewi Nawang Wulan Sekar Arum dari Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), serta Salma Tsaniyah El Hasan dan Fanny Sabillah Huda dari Psikologi.
Keragaman disiplin ilmu menjadi kekuatan utama saat menyusun gagasan, karena setiap anggota membawa cara pandang yang berbeda namun saling melengkapi.
“Kami datang dari jurusan yang berbeda, tapi punya visi yang sama: pendidikan harus inklusif dan benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik,” ujar Dewi.
Kolaborasi lintas disiplin ini membuat diskusi tim berlangsung intens. Dewi menekankan aspek pedagogis dan praktik pembelajaran, sementara dua rekannya memperkuat dari sisi psikologi mulai dari pemahaman karakteristik peserta didik hingga dampak emosional yang sering luput dilihat.
Perbedaan sudut pandang tidak menjadi hambatan, justru mendorong gagasan yang lebih komprehensif dan realistis.
“Yang paling terasa itu prosesnya. Kami saling ‘mengoreksi’ cara berpikir, lalu menyatukannya jadi solusi yang masuk akal,” kata Salma.
Fanny menambahkan, “Diskusi kami bukan hanya soal ide bagus, tapi juga soal bagaimana ide itu bisa ramah untuk anak-anak yang membutuhkan dukungan khusus.”
DYNUSA dan Fokus pada Disleksia di Pendidikan Inklusif
Dalam kompetisi tersebut, tim memilih subtema pendidikan dengan judul esai: “DYNUSA: Inovasi Aplikasi Media Belajar Berbasis Cerita Nusantara Terintegrasi AI sebagai Intervensi terhadap Gangguan Belajar Disleksia untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045.”
Gagasan ini lahir dari refleksi panjang tentang tantangan pendidikan inklusif di Indonesia, khususnya masih minimnya media belajar yang ramah bagi peserta didik dengan disleksia.
Disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca, menulis, dan memahami teks.
Namun, dalam praktik sehari-hari, kondisi ini sering disalahpahami sebagai kurang cerdas, malas, atau tidak termotivasi.
Padahal, peserta didik dengan disleksia memiliki potensi intelektual yang setara mereka hanya membutuhkan pendekatan yang tepat dan lebih adaptif.
“Sering kali anak disleksia dipaksa mengikuti pola yang sama dengan siswa lain. Akhirnya bukan kemampuan yang berkembang, tapi rasa cemasnya yang meningkat,” jelas Fanny.
Bagi Dewi, isu ini bukan sekadar bahan tulisan. Ia pernah mendampingi seorang siswa dengan disleksia dan melihat langsung dampak kesulitan membaca terhadap kepercayaan diri, motivasi, dan perkembangan akademik siswa tersebut.
Meski memiliki potensi besar di bidang lain seperti kreativitas dan visual, siswa itu kerap merasa tertinggal dan meragukan kemampuannya sendiri.
“Saya melihat sendiri bagaimana anak itu sebenarnya pintar, tapi jadi takut duluan karena terus merasa gagal saat membaca. Dari situ saya sadar: yang bermasalah bukan anaknya, tapi sistem belajarnya yang tidak ramah,” tutur Dewi.
Pengalaman ini membuat kontribusi Dewi di tim terasa nyata dan kontekstual. Ide-ide yang ia sampaikan tidak berhenti pada konsep, tetapi berangkat dari situasi yang pernah ia temui di lapangan.
Sementara itu, perspektif psikologi dari Salma dan Fanny memperkuat kerangka intervensi, termasuk pemahaman tentang kebutuhan emosional dan psikosocial peserta didik dengan disleksia.
Aplikasi Berbasis Budaya, AI, dan Langkah Menuju Indonesia Emas 2045
Melalui konsep DYNUSA, tim merancang media belajar yang adaptif sekaligus berakar pada budaya. Aplikasi ini berbasis cerita Nusantara yang disajikan secara visual, audio, dan interaktif.
Cerita lokal dipilih karena dekat dengan kehidupan peserta didik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat baca, rasa memiliki terhadap budaya, sekaligus memperkuat identitas nasional sejak dini.
Integrasi Artificial Intelligence (AI) menjadi kunci untuk pembelajaran yang personal. AI memungkinkan DYNUSA menyesuaikan tingkat kesulitan, kecepatan membaca, serta bentuk penyajian materi berdasarkan kemampuan masing-masing peserta didik.
Dengan pendekatan ini, siswa dengan disleksia tidak lagi dipaksa mengikuti satu pola seragam, melainkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih ramah, menyenangkan, dan bermakna.
“AI itu bukan gaya-gayaan. Di ide kami, AI dipakai untuk menyesuaikan cara belajar anak, bukan memaksa anak menyesuaikan sistem,” kata Salma.
Lebih jauh, DYNUSA diposisikan sebagai kontribusi menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan inklusif dipandang sebagai fondasi dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.
Memberi dukungan setara bagi peserta didik berkebutuhan khusus bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga soal nilai keadilan dan kemanusiaan dalam sistem pendidikan.
Capaian Juara Harapan 1 menjadi pemantik semangat bagi tim untuk melangkah lebih jauh.
Mereka menilai esai ini bukan titik akhir, melainkan langkah awal menuju pengembangan ide yang lebih aplikatif.
Selain prestasi, kompetisi ini juga melatih riset, manajemen waktu, kerja sama, dan keterbukaan terhadap kritik.
“Kami ingin DYNUSA tidak berhenti jadi tulisan lomba. Harapannya bisa benar-benar dikembangkan dan dipakai pendidik serta peserta didik di Indonesia,” tutup Dewi.
Editor: Nabila Wulyandini













![IMG-20250805-WA0019[1] Wisudawan Terbaik](https://pbi.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00191-150x150.jpg)
