pbi.umsida.ac.id — Suasana ibu kota Kazakhstan, Astana yang diselimuti salju musim dingin berubah menjadi semarak pada Jumat, 5 Desember 2025, saat digelar “National Indonesia Day Celebration Party”.
Perayaan ini bukan hanya seremoni Hari Nasional, tetapi juga ruang diplomasi budaya dan pendidikan yang mempertemukan Indonesia dan Kazakhstan dalam suasana hangat.
Delegasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mendapat kesempatan hadir sebagai tamu undangan.
Rombongan yang terdiri dari mahasiswa dan dosen pendamping hadir bersama mitra akademik Prof. Saltanat dari Eurasian National University (EAGI).
Kehadiran delegasi Umsida di tengah komunitas diplomatik dan akademisi Kazakhstan menegaskan kolaborasi internasional yang terus diperkuat, sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama kampus lintas negara dapat berjalan lewat interaksi nyata, bukan sekadar dokumen formal.
Bagi mahasiswa dan dosen pendamping, momen ini terasa istimewa karena membuka kesempatan berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh kunci hubungan bilateral.
Dalam aula perayaan, delegasi Umsida berkesempatan bertemu Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kazakhstan, Dr. Mochamad Fadjroel Rachman.
Ia menyambut hangat para delegasi muda, menyampaikan apresiasi atas semangat mereka menimba ilmu jauh dari tanah air, sekaligus menegaskan dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terhadap penguatan pendidikan dan pertukaran pelajar.
Pertemuan tokoh penting dan pertunjukan budaya menguatkan kedekatan kedua negara
Selain bertemu Dubes RI, delegasi Umsida juga berinteraksi dengan Sayasat Nurbek, Menteri Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi Kazakhstan.
Dalam pertemuan singkat tersebut, Menteri Nurbek menyampaikan sambutan positif terhadap kehadiran perwakilan Umsida dan menegaskan komitmen Kazakhstan untuk membuka ruang kerja sama akademik yang lebih luas dengan Indonesia.
Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa dan Prof. Saltanat untuk mendokumentasikan momen melalui foto bersama sebagai kenang-kenangan yang bernilai.
Acara berlangsung meriah dengan dekorasi bernuansa merah-putih yang dipadukan motif tradisional Indonesia serta ornamen khas Kazakhstan.
Perpaduan itu menciptakan atmosfer yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memperlihatkan persahabatan dua budaya dalam satu ruang.
Pertunjukan budaya menjadi fokus utama perayaan. Berbagai tari tradisional Indonesia ditampilkan dengan anggun dan energik, mulai dari tarian Jawa dan Bali hingga tarian dari Sumatera.
Setiap penampilan memancing kekaguman para tamu multinasional yang hadir. Suasana semakin hidup saat sesi tarian interaktif, ketika para hadirin diajak menari bersama.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Tabola Bale, tarian penuh semangat yang membuat diplomat dan pejabat tinggi ikut larut dalam kegembiraan.
Kemeriahan ini dilengkapi sajian kuliner khas Indonesia seperti nasi goreng, sate bumbu kacang, rendang, hingga jajanan pasar manis.
Hidangan itu tidak hanya memanjakan tamu, tetapi juga berperan sebagai medium komunikasi budaya yang efektif, menghadirkan rasa “Indonesia” di tengah dinginnya Astana.
Sepekan di Kazakhstan memadukan eksplorasi budaya dan tanggung jawab akademis
Partisipasi di “National Indonesia Day Celebration Party” menjadi puncak dari rangkaian kegiatan intensif delegasi Umsida selama sepekan di Kazakhstan.
Jadwal mereka berisi kombinasi eksplorasi budaya dan agenda akademis yang padat. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah merasakan musim dingin Astana.
Bagi sebagian besar delegasi, ini kali pertama berinteraksi langsung dengan salju tebal mulai dari bermain salju, membangun manusia salju kecil, hingga mengabadikan momen dalam foto.
Delegasi juga menjelajahi kota Astana yang dikenal dengan arsitektur futuristiknya. Sejumlah ikon kota seperti Menara Bayterek, Piramida Perdamaian dan Kerukunan, serta Istana Kepresidenan Ak Orda menjadi tujuan kunjungan, terutama karena tampil spektakuler di bawah lapisan salju.
Mereka juga menyempatkan berbelanja oleh-oleh khas Kazakhstan seperti produk wol, pernak-pernik motif nomad, cokelat, dan makanan ringan lokal sebagai bagian dari interaksi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Di tengah kesibukan sosial dan kunjungan, delegasi Umsida tetap menjaga fokus pada tujuan utama: pendidikan.
Mereka tetap meluangkan waktu belajar dan mempersiapkan tugas serta evaluasi akademik, termasuk ulangan dan ujian yang berlangsung daring untuk mata kuliah di Umsida maupun persiapan materi kolaborasi selama di Kazakhstan.
Dari pengalaman ini, mereka membuktikan bahwa menjadi pelajar internasional menuntut kemampuan menyeimbangkan peran: sebagai duta bangsa dalam diplomasi budaya, sekaligus sebagai pelajar yang disiplin dan bertanggung jawab.
Kunjungan delegasi Umsida ke Kazakhstan dengan puncaknya pada “National Indonesia Day Celebration Party” menjadi kisah yang menegaskan kuatnya kolaborasi pendidikan lintas negara.
Kehangatan relasi yang tercipta di Astana diharapkan terus bertumbuh, memperkuat hubungan Indonesia Kazakhstan melalui pertukaran budaya dan investasi pada generasi muda.
Editor: Nabila Wulyandini
















![IMG-20250805-WA0019[1] Wisudawan Terbaik](https://pbi.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/IMG-20250805-WA00191-150x150.jpg)