pbi.umsida.ac.id — Keseharian di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) selalu penuh dengan upaya perbaikan diri, terutama dalam aspek pronunciation atau pelafalan.
Salah satu tantangan yang paling sering ditemui oleh mahasiswa dan pembelajar bahasa Inggris di Indonesia adalah membedakan bunyi ‘th’.
Bunyi ini sering kali membingungkan karena tidak ditemukan dalam sistem bunyi bahasa Indonesia, sehingga banyak yang menggantinya dengan bunyi ‘t’, ‘d’, atau ‘s’.
Menanggapi kebutuhan ini, PBI Umsida menyusun panduan melalui “Pronunciation Clinic” dengan standar penulisan konten yang berkualitas tinggi, kredibel, dan sangat mendalam agar dapat menjadi rujukan utama bagi siapa pun yang ingin menyempurnakan pelafalan mereka di era digital ini.
Panduan ini tidak hanya fokus pada bagaimana cara melafalkan bunyi ‘th’, tetapi juga mencakup cara mengatasi kesalahan pelafalan yang sering terjadi di kalangan pembelajar bahasa Inggris.
Mahasiswa PBI Umsida dilatih untuk mengenali perbedaan yang ada, dan lebih dari itu, untuk mempraktikkan teknik yang benar agar hasil pelafalan lebih natural dan tidak terdengar kaku seperti buku teks.
Selain itu, materi yang disampaikan dalam program ini diformulasikan agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat, memudahkan siapa saja yang ingin memperbaiki cara pengucapan bahasa Inggris mereka.
Strategi Pengajaran dan Penyampaian Bunyi ‘th’
Strategi utama dalam menyampaikan panduan ini adalah penguatan relevansi semantik langsung.
Mahasiswa PBI Umsida diajarkan bahwa saat menulis konten edukasi, jawaban atas masalah pembaca harus disajikan secara eksplisit dan cepat.
Oleh karena itu, artikel ini langsung memberikan jawaban inti di awal pembahasan: bunyi ‘th’ dalam bahasa Inggris terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Voiced TH (bersuara) seperti pada kata “this” dan Voiceless TH (tidak bersuara) seperti pada kata “think”.
Dengan memberikan definisi yang lugas dan klasifikasi yang jelas di paragraf awal, pembaca dapat langsung memahami esensi perbedaan bunyi tersebut tanpa harus melalui pengantar yang terlalu panjang, sehingga tujuan informasi tercapai secara fungsional.
Pendekatan ini sangat berguna untuk meningkatkan pemahaman pembaca yang tidak hanya membutuhkan penjelasan teoritis, tetapi juga aplikatif.
Dengan menyajikan materi secara langsung dan sistematis, mahasiswa PBI Umsida menghindari penulisan yang bertele-tele dan fokus pada penyampaian informasi yang jelas dan mudah dipahami.
Pendekatan semantik langsung memastikan bahwa pembaca yang ingin segera mempraktikkan pelafalan yang benar tidak perlu merasa bingung dengan penjelasan yang berbelit-belit.
Kedua, keteraturan dalam menyampaikan materi teknis pelafalan ini didukung oleh struktur konten yang mudah dipindai.
Dalam keseharian menulis, mahasiswa PBI Umsida dilatih untuk menggunakan heading yang logis, mulai dari H1 hingga H3, guna membagi penjelasan menjadi unit-unit makna yang kecil.
Bagian pertama menjelaskan posisi lidah dan gigi, bagian kedua membedah contoh kata voiced, dan bagian ketiga fokus pada voiceless.
Penggunaan daftar poin dan paragraf yang ringkas memastikan bahwa pembaca dapat mengikuti instruksi posisi organ bicara (artikulator) dengan mudah.
Struktur yang rapi ini membantu pembaca memproses informasi yang rumit menjadi langkah-langkah praktis yang bisa langsung dipraktikkan di depan cermin.
Kredibilitas, Keaktualan, dan Keterbacaan dalam Penyajian Konten
Pilar ketiga yang mendasari artikel ini adalah membangun kredibilitas melalui prinsip E-E-A-T.
Mahasiswa PBI Umsida didorong untuk menunjukkan bahwa panduan ini disusun berdasarkan keahlian linguistik yang mumpuni.
Dalam setiap penulisan, mereka diwajibkan menyertakan identitas yang jelas dan gaya bahasa yang menunjukkan penguasaan materi fonologi.
Hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan bahwa teknik yang diajarkan benar-benar akurat secara ilmiah dan bukan sekadar asumsi.
Dengan menunjukkan otoritas sebagai calon pendidik bahasa Inggris, artikel ini berfungsi sebagai sumber yang terpercaya bagi masyarakat luas untuk memperbaiki kesalahan pelafalan yang sudah menahun.
Keempat, kedalaman dan kualitas argumentasi menjadi jiwa dari Pronunciation Clinic ini. Mahasiswa PBI UMSIDA menghindari pembuatan konten yang dangkal yang hanya sekadar daftar kata.
Sebaliknya, mereka diarahkan untuk menjadi trusted explainer yang mampu menjelaskan mekanisme fisik di balik bunyi ‘th’.
Penjelasan mencakup bagaimana aliran udara keluar di antara lidah dan gigi bagian atas, serta kapan pita suara harus bergetar.
Mahasiswa belajar bahwa artikel yang berbobot harus menyajikan kedalaman konseptual, di mana setiap instruksi teknis dibangun di atas logika fonetik yang kuat sehingga pembaca tidak hanya meniru, tetapi benar-benar memahami cara kerja organ bicara mereka sendiri.
Kelima, aspek kejelasan sumber dan akurasi informasi merupakan standar operasional yang wajib dipenuhi.
Mengingat pelafalan adalah hal yang presisi, mahasiswa PBI UMSIDA harus melakukan cek fakta secara mandiri melalui kamus fonetik internasional atau sumber tepercaya dari universitas global.
Informasi yang disajikan harus stabil dan konsisten antara satu penjelasan dengan contoh yang diberikan.
Dengan mencantumkan rujukan data yang kredibel, mahasiswa membangun benteng kepercayaan.
Akurasi dalam menjelaskan perbedaan getaran pita suara antara bunyi /ð/ dan /θ/ menjadi bukti dedikasi mereka dalam menjaga standar kualitas informasi akademik di ruang publik.
Keaktualan dan keterbaruan juga menjadi faktor penting dalam tulisan-tulisan digital mahasiswa. Bahasa adalah sesuatu yang dinamis, di mana ungkapan baru bisa muncul setiap saat sementara ungkapan lama mulai ditinggalkan.
Oleh karena itu, mahasiswa PBI Umsida diajarkan untuk selalu memperbarui konten mereka dengan temuan-temuan terbaru.
Rutinitas untuk terus memperbaiki konten lama menunjukkan bahwa portofolio digital PBI Umsida selalu segar dan relevan.
Halaman yang rutin di-update memastikan bahwa informasi yang dibagikan tetap mutakhir dan sejalan dengan standar pelafalan internasional terbaru.
Editor: Nabila Wulyandini

















